Perempuan Penembus Batas (Majalah Tempo) dan Interseksionalitas Feminisme

Menurut dosen filsafat Universitas Indonesia, Gadis Arivia, feminisme haruslah inklusif dan majemuk. Pada dasarnya, ideologi feminisme harus mengacu kepada interseksionalitas yang mencakup setiap gender, etnis, dan seksualitas. Seseorang bukanlah feminis apabila ia mendukung hak wanita karir tetapi mencemooh, biasanya dengan dasar-dasar gamblang agamawi, pilihan wanita panggilan  dalam mengekspresikan seksualitasnya. Seseorang bukanlah feminis apabila ia mendukung hak wanita secara general tetapi menyudutkan hak transgender. Seseorang bukanlah feminis apabila ia hanya mendukung hak perempuan dari suku dan golongan tertentu saja. Beberapa minggu yang lalu, terdapat banyak demonstrasi wanita di berbagai negara — khususnya di Amerika Serikat — yang bertajuk “Women’s March“. Tujuan utama dari Demonstrasi Wanita tersebut ialah untuk memprotes inagurasi presiden Donald Trump, seorang pebisnis yang tidak menyetujui organisasi Planned Parenthood maupun tindakan aborsi. Tujuan lainnya ialah untuk menunjukkan kepada masyarakat luas betapa susahnya hidup sebagai perempuan kulit berwarna (women of color) dan kaum LGBT dengan hak-hak asasi yang tertindas. Walau begitu, banyak sekali wanita kulit putih (white people/Caucasian) yang mengaku sebagai “feminis” tetapi menanggalkan kepentingan kaum transgender, wanita kulit hitam, wanita Hispanics, Asians, dan lain sebagainya — seperti pada gambar di bawah ini:

Image result for black woman marching white woman selfie

Ketika wanita kulit hitam tersebut sedang berdemonstrasi, wanita-wanita kulit putih dengan topi warna merah muda di belakangnya malah asyik selfie dan bermain telepon genggam di tengah kegiatan Women’s March. Hal tersebut bukanlah feminisme yang interseksionalis.

Tahun 2016 lalu, majalah Tempo mengeluarkan sederetan nama wanita yang telah mengharumkan bangsa dalam rangka emansipasi. Tempo lalu melakukan penjurian terhadap wanita-wanita hebat tersebut dengan memilih 9 perempuan yang dianggap sebagai andalan. Sebenarnya tidak perlu dilakukan penjurian lagi, karena semua nama perempuan yang tercantum oleh majalah Tempo telah menghasilkan dampak positif terhadap Bangsa Indonesia. Untuk apa melakukan penjurian pada wanita-wanita yang validitasnya telah diakui oleh masyarakat lokal?

Inilah beberapa nama perempuan yang telah menembus batas patriarki, menurut majalah Tempo:

  1. Yosmina Tapilatu, pemburu harta karun mikrobiologi laut. Memiliki wawasan yang luas mengenai mikrobiologi laut, Yosmina mengidentifikasi bakteri yang mampu menghasilkan pigmen penghambat bakteri leukemia. Beliau menolak dianggap sebagai “ahli riset biologi”, sebab aktivitas penelitian ialah kehidupan sehari-hari baginya — tak ada yang perlu dibanggakan. Walau ia telah ahli dalam bidang mikrobiologi laut dalam, Yosmina tak kenal lelah dalam melanjutkan riset penelitian untuk menambah wawasan.
  2. Fenny Martha Dwivany, seorang peneliti buah pisang yang membuat wadah berteknologi nano dengan bahan bambu. Sehingga, pedagang pisang di pasar tidak lagi menderita kerugian yang disebabkan oleh proses pembusukan.
  3. Kartika Jahja, seorang penyanyi dan aktivis yang dengan giat menyuarakan opininya mengenai kekerasan seksual dan diskriminasi gender. Sebagai seorang feminis, Kartika menulis lagu berjudul Tubuhku Otoritasku.
  4. Sheila Agatha Wijaya, desainer baju asal Purbalingga yang telah memenangkan berbagai macam penghargaan dari luar negeri. Setelah menempuh pendidikan diploma di Malaysia, Sheila kembali lagi ke Purbalingga untuk mendirikan usaha jahit dan mempekerjakan tenaga kerja dari sekolah luar biasa. Mayoritas pegawainya ialah tuna wicara — mereka berkomunikasi dengan majalah Tempo sambil menggunakan pena dan kertas. Walaupun begitu, Sheila tetap mempekerjakan mereka dengan baik, dan menggaji sesuai upah minimum. Pegawai Sheila sangat loyal kepadanya, karena Sheila telah menganggap mereka seperti keluarga. Karena kreativitas dan kebaikannya, Sheila memenangkan penjurian Tempo dalam bidang Entrepreneur.
  5. Rosa Dahlia, menjadi guru secara cuma-cuma di pedalaman Papua, tepatnya di Kabupaten Lanny Jaya. Tidak ada seorang pun yang berkeinginan untuk mengajar di Lanny Jaya, namun Rosa tetap bersikeras melayani anak-anak yang memiliki semangat belajar. Pada akhirnya, ia pun dikontrak untuk mengembangkan sekolah alternatif di wilayah pesisir selatan Papua.
  6. Semenjak remaja, Putri Gayatri telah aktif menyuarakan ketidakadilan pernikahan di bawah umur yang sering ia temui di kota kelahirannya. Melalui organisasi Save the Children, ia melakukan advokasi tentang usia pernikahan, yang pada akhirnya membawa Putri ke Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat.
  7. Rosalinda Delin ialah bidan di daerah Nusa Tenggara Timur. Semenjak tahun 2003, Rosalinda telah aktif berkampanye ke daerah terpencil dengan menggunakan sepedanya, untuk menghapus tradisi hasai hai (tradisi mengasapi sang ibu dan bayi selama 42 hari). Dikarenakan pengetahuan yang sempit, rakyat berpikir bahwa hasai hai dapat membantu menghangatkan ibu dan bayi, dengan menggunakan asap, setelah melakukan persalinan. Akan tetapi, asap malah akan memberikan dehidrasi kepada ibu dan anak. Rosalinda terus memberikan penyuluhan mengenai bahaya tradisi hasai hai, dan pada akhirnya. para ibu pun setuju untuk menghentikan tradisi turun temurun tersebut.
  8. Leonika Sari Njoto, alumnus ITS, berhasil membuat aplikasi donor darah yang membantu PMI untuk mendapatkan kantung darah dari berbagai golongan secara cepat. Target Leonika ialah, pada tahun 2020, PMI tidak akan pernah kekurangan darah lagi — terutama darah dengan golongan langka. Dengan aplikasinya, Leonika pernah membantu seorang bapak penderita leukemia yang membutuhkan 15 kantong darah AB rhesus negatif.
  9. Asfinawati, direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, menjadi pengacara untuk para buruh yang berbulan-bulan tidak digaji. Tujuannya menjadi pengacara ialah untuk membantu rakyat kecil yang tertindas. Dari seratus perkara yang ia tangani, setengahnya ia kalah. Walaupun begitu, Asfinawati terus gigih dalam memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s