Indonesia Merdeka, Hiroshima Merana

Pelajaran sejarah dari kelas 5 SD maupun SMA pasti selalu mengajarkan cerita detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Buku paket biasanya memulai kisah proklamasi dari kekosongan kabinet yang disebabkan oleh pengeboman di Jepang (khususnya kota Hiroshima dan Nagasaki), penculikan tokoh Indonesia seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, sampai akhirnya adalah kegiatan pembacaan teks proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Perlu diakui bahwa rakyat serta pemimpin Bangsa Indonesia sangatlah cekatan dalam melakukan proklamasi kemerdekaan, benar-benar kesempatan (kolonisasi Jepang melemah) dalam kesempitan (risiko pasukan Belanda merebut Indonesia kembali, yang pada akhirnya terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya). Beberapa minggu sebelum Indonesia merdeka, tepatnya tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom dengan kekuatan lebih dari 20 ribu ton TNT yang bernama Little Boy di pusat kota Hiroshima. Dahulu, saya selalu menganggap Hiroshima ataupun Nagasaki sebagai kota “tak berpenduduk” yang telah di bom oleh Amerika, sebab buku paket sejarah hanya memberikan sedikit informasi mengenai kedua kota tersebut (sebatas tanggal pengeboman atau nama bom yang dijatuhkan). Pada saat bom Little Boy tersebut dijatuhkan, Hiroshima ialah salah satu kota dengan penduduk terpadat; penduduk awam seperti kita semua, yang saat itu sedang mengerjakan hal-hal sepele seperti berbincang dengan teman maupun beristirahat.

Related image
Bom di Hiroshima yang menyerupai jamur

Mayoritas penduduk Hiroshima langsung meninggal dunia setelah bom dijatuhkan. Beberapa korban yang selamat dari malapetaka tersebut heran, bagaimana bisa mereka masih bertahan hidup ketika hampir semua orang meninggal dunia? Korban yang beruntung mulai memperhitungkan detik-detik terakhir sebelum bom meledak, detik terakhir dimana mereka membuat keputusan yang menyelamatkan nyawa mereka.

Mr. Tanimoto, contohnya. Ketika prajurit Amerika menjatuhkan bom, Mr. Tanimoto tidak mendengar suara ledakan apapun dari bom tersebut — yang beliau lihat hanyalah cahaya terang yang berpindah dari ujung timur ke barat. Rumah Mr. Tanimoto yang berjarak dua mil dari ledakan langsung hancur. Ketika beliau keluar rumah, Mr. Tanimoto melihat banyak prajurit Jepang telah berlumuran darah ketika menggali lubang persembunyian untuk perang. Ironis sekali, lubang telah dihancurkan oleh bom Hiroshima sebelum selesai digali, dan prajurit Jepang pun kebingungan.

Hatsuya Nakamura, janda dengan 3 anak kecil, tertimbun di rumahnya sendiri ketika ledakan terjadi. Walaupun begitu, Hatsuya masih dapat menyelamatkan diri serta anak-anaknya, sebelum sisa bangunan menguburnya hidup-hidup. Hatsuya tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa bom akan dijatuhkan dengan cepat oleh tentara Amerika; yang ia tahu hanyalah peringatan dari pemerintah Jepang akan perang dengan tanggal tak menentu. Sebelum bom dijatuhkan, Hatsuya melihat tetangganya mencabuti dinding kayu rumahnya sendiri, papan demi papan, agar rumahnya dapat selamat dari perang/ledakan bom. Belum sampai semua perkakas rumah dicabut, tetangga Hatsuya telah meninggal dunia terlebih dahulu akibat dari ledakan bom Little Boy.

Toshiko Sasaki, karyawan kantor East Asia Tin, hanya akan berbincang-bincang dengan teman sebelahnya ketika ia terlempar ke ruang bawah tanah saat bom meledak. Yang ia rasakan saat itu ialah cahaya putih akibat radiasi bom, sementara sebagian tubuhnya tertimpa rak buku. Seluruh anggota keluarga Toshiko meninggal dunia dikarenakan bom.

Dr. Sasaki berhasil menyelamatkan dirinya sendiri dari ledakan bom Hiroshima, setelah gagal naik kereta ke kota tersebut. Tetapi, rumah sakitnya hancur lebur oleh bom — inkubator dan kantung darah pecah, muntahan dimana-mana, rekan dokter meninggal karena tertimpa kaca, atap berjatuhan, darah pasien belepotan, serta sebagian pasien meninggal di tempat. Sebagai seorang dokter, Sasaki melihat banyak orang dengan kulit meleleh dari badan mereka sendiri, sehingga hanya meninggalkan daging merah. Di pinggir jalan, ia menemukan banyak orang secara perlahan meninggal dunia, dengan badan merah terbakar dibalut lelehan baju. Dari malapetaka tersebut, ilmuwan merumuskan tiga tahap dampak radiasi dari bom Hiroshima:

  1. Tahap pertama: Reaksi langsung dari radiasi neutron, beta, serta gamma bom yang membunuh sel-sel tubuh manusia secara cepat.
  2. Tahap kedua: Selama kurang lebih 10-15 hari, penduduk merasakan diare, demam, rontoknya rambut, kehilangan sel darah putih, pendarahan. Luka akan sangat lambat untuk sembuh dikarenakan kurangnya sel darah putih sebagai imun tubuh, yang pada akhirnya dapat menyebabkan anemia.
  3. Tahap ketiga: Terjadi komplikasi seperti infeksi paru-paru atau tubuh bagian dalam lainnya. Proses reproduksi dalam tubuh manusia, terutama wanita, terhambat dikarenakan oleh radiasi bom.

Sampai sekarang, banyak sekali perdebatan mengenai keputusan Amerika dalam meledakkan Hiroshima ataupun Nagasaki. Di satu sisi, tentu bom tersebut sangat merugikan Jepang pada saat itu. Sekitar 90,000 – 146,000 penduduk awam meninggal dunia dikarenakan bom Hiroshima, sehingga banyak pihak mengkritik keputusan Amerika sebagai hal yang keji. Di sisi lain, Jepang adalah salah satu pelaku tindak kriminal perang saat Perang Dunia, yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu korbannya. Di Indonesia sendiri, tentara Jepang memperlakukan rakyat secara semena-mena dengan memperbudak mereka melalui romusha. Tanpa bom oleh Amerika di Hiroshima maupun Nagasaki, Jepang diasumsikan tidak akan pernah menyerah terhadap sekutu, dan akan semakin memperluas wilayah kolonisasi mereka di seluruh penjuru dunia. Tanpa bom di Hiroshima ataupun Nagasaki, Indonesia tidak akan memiliki kesempatan untuk memerdekakan diri di tahun 1945.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s