Politik ini, Politik itu: Demokrasi atau Demolisi?

Demolisi: dari kata demolish (kata kerja) atau demolition (kata benda) yang artinya adalah penghancuran 

Pada akhirnya, Ahok pun dipenjara. Tapi, apakah beliau dipenjara hanya semata-mata karena “penistaan agama”, atau gara-gara beliau berbeda suku dan agama dari mayoritas? Apakah hal itu merupakan permainan politik, dimana yang kaya dan berkuasa ingin semakin lebih kaya dan berkuasa lagi, sehingga mereka menanggalkan moralitas dan mengadu domba sana sini? Pernah tidak berpikir bagaimana reaksi oposisi ketika mereka tahu bahwa Ahok tidak jadi dijatuhi hukuman penjara? Atau reaksi mereka ketika (misalnya) Ahok berhasil menang menjadi gubernur Jakarta?

Wah, ndak mungkin permainan politik, kan ini sudah 2017. Indonesia negara demokrasi, buktinya Pak Jokowi terpilih“. Ya coba lihat negara-negara demokrasi di bawah ini:

Negara Syria, yang dipimpin oleh seorang intelektual, masih saja mengalami perang di peradaban masa kini. Perang saudara pula, dimana pemerintah diduga membunuh rakyatnya sendiri. Beberapa kota di Syria sekarang, di tahun 2017, hancur lebur dan rata dengan tanah gara-gara perang sini situ. Presiden Syria sendiri, yang dulunya saya pikir sebagai seorang radikal, ternyata adalah bapak berumur 50an tahun lulusan kedokteran yang pernah tinggal di London, Inggris. Apabila melihat video beliau bicara, jarang orang bisa menyangka kalau dia akar dari permasalahan yang sedang terjadi di Syria sekarang — permasalahan seperti Hak Asasi Manusia, perang, kemiskinan, kelaparan, dan lain sebagainya. Kalau Presiden ini pernah tinggal di London, kan berarti dia sudah belajar menjadi individu yang progresif to ya? Tapi ternyata nggak juga, pikirannya mungkin masih konservatif. Anehnya, presiden inilah yang mayoritas dipilih oleh rakyat dengan perolehan suara 72%. Jadi Syria ini sebenarnya juga negara demokrasi, seperti halnya Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Indonesia. Mungkin waktu itu rakyatnya tidak tahu kalau mereka sedang menggunakan hak pilihnya untuk memilih seorang diktator. Diktator dengan balutan intelektualitas modern Barat — ironis sekali.

Amerika Serikat, negara yang dijuluki sebagai The Leader of the Free World dan salah satu pencetus kapitalisme dunia, memutuskan untuk memilih pebisnis Donald Trump sebagai presiden ke-45. Hillary Clinton memang mendapatkan suara terbanyak, namun beliau tetap kalah: mengapa? Karena sistem electoral vote tetap menunjukkan bahwa mayoritas penduduk di berbagai negara bagian Amerika Serikat, terutama yang tinggal di negara bagian pelosok, telah memilih Donald Trump. Jadi, Hillary tetap kalah meskipun beliau berhasil mendapatkan sekitar lebih dari 2.9 juta suara dari pemilu.

Image result for electoral vote trump
Perbandingan electoral vote antara Trump dengan Clinton. Negara bagian dengan warna merah telah dimenangkan oleh Trump, walau Clinton (warna biru) mendapatkan suara terbanyak dari penduduk Amerika Serikat.

Donald Trump telah banyak melakukan kontroversi (bisa dibaca di: sini), tetapi penduduk pedalaman Amerika Serikat tetap bersikeras memilihnya sebagai presiden. Walaupun Trump mengeluarkan Muslim Ban, “mengganti” asuransi kesehatan (dengan sesuatu yang lebih buruk), menghina wanita di depan umum, berusaha menghapus sebuah organisasi wanita, menolak keberagaman suku dalam kabinet pemerintahan, meningkatkan persentase kejahatan dan rasisme terhadap kaum minoritas, para pendukungnya tetap bersikeras bahwa Trump ialah terbaik. Walaupun ia menuduh media massa sebagai pembohong, ataupun ikut campur dalam kasus nepotisme dengan anak-anaknya, pendukung Trump masih saja bersikeras bahwa ia harus menang dalam pemilu. Trump pun menang, dan kabinet pemerintahan Amerika yang sekarang telah didominasi oleh kaum kulit putih (bule bule), atau bisa disebut juga dengan white supremacy. Kaum minoritas semakin tertindas, terutama dengan adanya agensi ICE (U.S. Immigration and Customs Enforcement) yang bertugas untuk menangkap kaum imigran “ilegal”, memisahkan anak-anak dengan orang tuanya dalam hitungan menit. Mengapa? Sebab sewaktu dia kampanye, Trump memilih untuk pergi ke daerah-daerah terpencil, dimana dia bisa memberikan janji kosong berkaitan dengan bisnis ekonomi kepada penduduk awam. Pada dasarnya Trump berkata, “Pilih aku, nanti hidupmu bisa lebih enak”. Siapa to yang nggak mau jadi kaya dalam sekejap? Memang uang itu cara terbaik untuk segalanya kan? Meskipun pada akhirnya janji tidak ditepati dan masyarakat malah semakin miskin.

Setelah masyarakat berdemo besar-besaran pun, Donald Trump tetap tidak diturunkan (impeached) dari kedudukannya sebagai presiden. Berbeda dengan Korea Selatan, dimana rakyat berdemonstrasi dan kemudian berhasil menurunkan Presiden Park Geun-Hye yang diduga telah berkorupsi.

Related image
Demonstrasi penduduk Korea Selatan untuk menurunkan Presiden Park Geun-Hye.

Waktu membaca berita tentang turunnya presiden Korea Selatan dari jabatannya, saya pikir rakyat Amerika juga bisa menurunkan Donald Trump. Hal ini karena Amerika ialah pendukung utama Korea Selatan setelah Perang Korea di tahun 1950an, dimana Uni Soviet menjadi pendukung Korea Utara. Tetapi ternyata menurunkan Presiden Donald Trump itu susah juga to ya.

Jadi gini, negara bisa diasumsikan sebagai pendukung demokrasi, tapi pemimpin-pemimpinnya kadang malah melakukan demolisi. Demolisi/penghancuran terhadap Hak Asasi Manusia lah, rakyat kecil lah, keberagaman ras, agama, dan lain sebagainya. Politik yang harusnya bertujuan untuk membangun dan menginspirasi rakyat, malah sekarang menjadi pembicaraan yang tabu. Mayoritas orang sekarang bilang, “Ah jangan bicara politik, kamu masih kecil memang tau apa? Politik itu kotor”. Kalau kita terus-terusan berpikir bahwa politik itu kotor, lalu kapan bersihnya? Memang susah to ya buat menggabungkan penduduk dari berbagai ras, suku, agama, ideologi, menjadi satu (satu kelas saja kadang gak akur kok, lha gimana satu negara). Tapi paling nggak, ya ada to inisiatif dari masing-masing kita untuk toleransi satu sama lain. Memang bener politik itu tidak stabil — sekarang kita mungkin masih bisa semangat di bawah pemerintahan Bapak Jokowi gitu ya, tapi siapa yang bisa memprediksi masa depan to? Pak Jokowi kan ya ndak bisa jadi presiden terus-terusan. Ada kemungkinan pemerintahan Indonesia diambil alih oleh seseorang yang haus kuasa dan kekayaan saja, yang ingin terus berkecimpung dalam kolusi, korupsi, dan nepotisme. Yang melakukan hal apapun, termasuk menuduh seorang yang tidak bersalah dan menyekat heterogenitas bangsa, sehingga ia bisa duduk di kursi kepresidenan. Kuasa, kuasa, kuasa, apa itu inti sebenarnya dari demokrasi kependudukan? Ya kalau mau kaya dan berkuasa, jadi entrepreneur saja lah! Jadi pebisnis saja lah, buka relasi sana sini. Inspirasi koruptor itu mungkin adalah Donald Trump, seseorang yang menjadikan platform negara sebagai sumber keuntungan bagi dirinya sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Politik ini, Politik itu: Demokrasi atau Demolisi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s