#1: Ines & Bahasa Tionghua

Di tahun 2000an, terdapatlah seorang anak bernama Ilana Anastasia Esterita, yang dapat juga dipanggil sebagai INES. Ines ialah perempuan berkebangsaan Indonesia, seorang cino-jowo. Maksudnya, Ines ialah keturunan Cina lahir di Jawa, tepatnya di suatu kota yang lumayan kecil apabila dibandingkan dengan kota Melbourne (Ines tidak pernah ke Melbourne). Ines nyaman dengan kota kelahirannya tersebut, tetapi ia harus pindah ke kota yang lebih besar saat dirinya menginjak Sekolah Menengah Atas, biar keren saja.

Di sekolah itu, diajarkanlah Bahasa Cina/Tionghua/Mandarin. Saat kelas 10, Ines enjoy saja dengan pelajarannya, karena laoshi (“guru” dalam bahasa tionghua) nya baik sekali, seperti putri-putri di drama Cina. Namanya laoshi Ina. Sudah baik, putih pula, tinggi, kurus, wah sempurna deh. Ines dengan mudah mengikuti pelajaran, dia selalu dapat nilai 90 saat ulangan. Ines berpikir, wah mungkin aku ditakdirkan untuk menguasai bahasa Cina seperti layaknya nenek dan kakek moyangku di daerah Tjang Tjin (dimanakah Tjang Tjin itu? Tidak tahu, karena Ines hanya ngawur).

Ketika Ines naik kelas, ternyata laoshi-nya ganti. Yah, Ines berpikir, kenapa ya kok bisa berbeda seratus delapan puluh derajat? Laoshi Prispreti namanya. Walaupun berakhiran ‘preti’, laoshi Prispreti tidak preti. Setiap melihat Laoshi tersebut, Ines setress. Pelajaran Bahasa Tionghua menjadi susah sekali, Ines tak bisa lagi menghapal huruf balok Cina ataupun tanda-tanda nada yang naik turun. Laoshi Prispreti selalu memarahi Ines, karena buku paket Ines selalu penuh dengan gambar cewek-cewek yang pastinya lebih preti daripada laoshi dong. Laoshi selalu berkata, “Loh Ines gimana sih, kok gambar terus?”. Ines berkata dalam hati, ya lebih baik aku gambar gambar daripada melihat muka laoshi. Tapi tentunya Ines tidak berkata langsung, karena ia takut dibunuh laoshi.

Suatu hari Ines merasa putus asa dengan pelajaran Bahasa Tionghua ini. Nilai kuis jelek, ujian apalagi, dan nilai praktik percakapan juga lebih jelek. Hal ini karena partner percakapan Ines hanya bisa Haha Hihi Hehe Ni Hao Xie Xie. Kalau itupun Ines juga bisa. Yang Ines tidak bisa kan bahasa Mandarin/Cina/Tionghua ini to, aduh bingung ya. Laoshi juga semakin marah karena Ines selalu gagal melakukan percakapan. Beliau berkata, “Heh Ines. Kamu Cina tapi kok gak bisa Mandarin sih? Parah deeh”. Ines pun mbatin, yah yang penting aku ndak serem seperti laoshi.

Ines tidak ingin dihina-hina oleh laoshi Prispreti lagi. Semenjak hari itu, Ines membuat kerpekan di notes kecil apabila ada kuis Bahasa Tionghua. Tapi kalau ujian yang sebenarnya, Ines tetap jujur dong. Menyontek hanya pas kuis saja, karena Ines malu kalau teman yang memeriksa hasil kuis mengetahui identitas aslinya: Cino Bento

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s